stock foto profil jarot warjito web (35)

Menakar Napas Investasi: Antara Kilau Emas yang Lincah dan Properti yang Ajeg

Facebook
Twitter
WhatsApp
Threads

Memasuki pertengahan Februari 2026, wajah ekonomi domestik menyuguhkan pemandangan yang kontras namun menarik untuk dibedah. Di satu sisi, ada emas yang bergerak sangat dinamis, hampir seperti pelari cepat yang sedang mencari napas.

Di sisi lain, ada properti—bangunan dan tanah—yang bergerak layaknya maraton: tenang, stabil, dan konsisten. Bagi seorang investor, memahami denyut kedua instrumen ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal seni mengukur kemampuan diri.

Dinamika Kilau Emas di Awal 2026

Jika melihat catatan sejak awal tahun, emas benar-benar menunjukkan taringnya. Bayangkan, pada 1 Januari 2026, harga emas Antam masih dibuka di angka Rp2.488.000 per gram.

Tak butuh waktu lama, reli global yang didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik membawa harganya melonjak tajam.

Puncaknya, pada 14 Februari 2026, harga jual Logam Mulia menyentuh angka Rp2.954.000 per gram. Kenaikan yang fantastis dalam waktu singkat. Namun, perlu dicatat bahwa emas adalah instrumen yang volatil. Meski trennya menguat, fluktuasi di bulan Februari menunjukkan adanya koreksi dan aksi ambil untung (profit taking).

Selisih harga jual dan buyback yang berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000 per gram juga menjadi pengingat bahwa emas bukanlah alat spekulasi harian.

Menilik Kestabilan Pertumbuhan Nilai Properti

Berbeda dengan emas yang harganya bisa berubah dalam hitungan jam, properti di tahun 2026 menunjukkan ketangguhan yang berbeda. Mengutip data dari Kontan, kenaikan harga bangunan dan tanah tetap stabil di angka 7–12% per tahun.

Kenaikan ini bukan tanpa alasan. Lonjakan biaya konstruksi menjadi motor penggeraknya; harga batu kali naik hingga 50% dan beton naik 30%. Hal ini secara otomatis mengerek harga rumah tapak secara nasional.

Namun, bagi yang jeli melihat peluang lokal, daerah seperti Malang masih menawarkan harga yang masih ramah kantong yakni di kisaran Rp160–300 juta. Apalagi lokasi nya juga strategis dekat akses tol atau kawasan wisata.

Keunggulan properti terletak pada dua sisi: apresiasi nilai jangka panjang dan yield sewa yang berkisar 5–8%. Properti adalah aset nyata yang nilainya cenderung “anti-turun” dalam jangka panjang (10 tahun ke atas), meski harus diakui memiliki tantangan likuiditas yang rendah dan biaya perawatan yang tidak murah.

Bijak Memilih: Ukur Baju di Badan Sendiri

Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, pesan yang paling krusial adalah berinvestasi sesuai kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri mengambil KPR rumah miliaran jika arus kas belum mumpuni, namun jangan pula membiarkan dana menganggur saat inflasi mulai menggerus nilai uang.

  1. Mulai dari yang Terdekat: Jika modal terbatas, emas adalah pintu masuk yang paling bijak. Dengan satuan gramasi kecil, emas memungkinkan siapa pun mulai menabung tanpa harus menunggu dana besar.
  2. Manfaatkan Peluang Lokal: Bagi yang memiliki modal menengah, melirik properti di daerah berkembang (seperti pinggiran Malang) jauh lebih realistis daripada memaksakan diri membeli di pusat kota yang harganya sudah jenuh.
  3. Diversifikasi adalah Kunci: Emas untuk likuiditas dan proteksi jangka menengah, sementara properti untuk warisan nilai di masa depan.

Investasi bukan tentang siapa yang paling cepat kaya, melainkan siapa yang paling mampu bertahan dan tumbuh secara konsisten. Apakah kita sudah cukup berani mengambil peluang, atau masih sekadar menjadi penonton di pinggir lapangan?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *