Pasuruan, baik Kota maupun Kabupaten, kini berada dalam lintasan pertumbuhan ekonomi yang menarik. Terletak strategis di antara Surabaya dan Malang, kawasan ini menjadi simpul penting dalam koridor industri dan logistik Jawa Timur.
Keberadaan jalur tol Trans Jawa yang menghubungkan Pasuruan dengan pusat ekonomi regional memperkuat posisinya sebagai gerbang timur pertumbuhan kawasan metropolitan Surabaya Raya.
Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, Pemerintah Kota Pasuruan menempatkan sektor industri dan properti sebagai dua pilar utama pembangunan ekonomi daerah.
Kedua sektor ini saling terkait: pertumbuhan industri menciptakan permintaan terhadap perumahan dan fasilitas komersial, sementara ketersediaan properti yang layak mendorong stabilitas tenaga kerja dan investasi jangka panjang.
Infrastruktur Sebagai Penggerak Nilai Properti
Dalam konteks ekonomi daerah, aksesibilitas merupakan kunci peningkatan nilai lahan dan properti.
Pasuruan memiliki keunggulan infrastruktur yang signifikan — mulai dari jaringan tol Gempol, Pandaan, hingga Grati — yang memperpendek waktu tempuh ke Surabaya dan Sidoarjo.
Kondisi ini menjadikan Pasuruan alternatif hunian strategis bagi para komuter, dengan harga lahan yang lebih kompetitif dibandingkan kawasan metropolitan utama.
Konektivitas ini tidak hanya mendorong pergerakan tenaga kerja, tetapi juga memperkuat arus barang industri dari kawasan manufaktur menuju pelabuhan dan pasar domestik.
Dengan kata lain, infrastruktur bukan sekadar jalan, melainkan pendorong langsung bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan nilai properti.
Menilik Potensi Investasi dan Kinerja Positif Pemerintah Kota Pasuruan
Berdasarkan data RPJMD Kota Pasuruan 2025–2029, kawasan peruntukan industri di Kota Pasuruan mencapai 437 hektar.
Pengembangan kawasan dilakukan dengan mempertimbangkan tren aglomerasi industri yang telah ada serta ketersediaan lahan baru yang dekat dengan akses jalan lintas utara (JLU) dan pelabuhan.
Kawasan Bukir, Randusari, Krapyakrejo, Sebani, Petahunan, dan Gentong dikenal sebagai sentra home industri mebel, sedangkan wilayah Gadingrejo, Karangketug, dan Mandaranrejo berkembang sebagai kawasan pergudangan dan logistik.
Pola ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi lahan yang semakin terarah — dari sekadar area industri kecil menuju pusat pertumbuhan ekonomi dengan basis supply chain yang kuat.
Perkembangan tersebut membuka ruang besar bagi ekspansi properti komersial, hunian karyawan, serta layanan pendukung seperti pusat logistik dan kawasan bisnis terpadu.
Kualitas permukiman juga menjadi indikator penting dalam keberlanjutan pembangunan kota. Berdasarkan laporan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pasuruan (2025), penyediaan dan rehabilitasi rumah layak huni bagi korban bencana terus meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir — dari 10 unit pada 2020 menjadi 65 unit pada 2024.
Lebih jauh, persentase rumah layak huni di Kota Pasuruan meningkat dari 96,69% pada 2020 menjadi 98,65% pada 2024.
Kenaikan ini berjalan seiring dengan meningkatnya akses air minum aman dan penurunan angka rumah tidak layak huni.
Data ini menunjukkan adanya konsistensi kebijakan pemerintah dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik investasi di sektor perumahan.
Dinamika Demografi dan Kebutuhan Properti
Proyeksi penduduk Pasuruan 2025–2029 menunjukkan peningkatan di seluruh kelompok usia. Populasi usia kerja (15–64 tahun) naik dari 152.940 menjadi 159.120 jiwa, sementara kelompok lansia meningkat dari 16.470 menjadi 21.020 jiwa.
Kondisi ini menandakan dua hal penting:
- Permintaan hunian produktif dan komersial akan meningkat seiring bertambahnya tenaga kerja industri.
- Kebutuhan hunian adaptif untuk masyarakat lanjut usia juga mulai muncul sebagai pasar baru yang potensial, terutama untuk segmen rumah tapak dengan fasilitas kesehatan dan lingkungan ramah lansia.
Dengan pertumbuhan demografis tersebut, kebutuhan terhadap hunian layak, terjangkau, dan strategis akan terus meningkat, menciptakan momentum positif bagi sektor properti Pasuruan.
Sektor Properti: Kontributor Utama Investasi Daerah
Data dari Radar Bromo (akhir 2022) menunjukkan bahwa sektor properti menyumbang 31% terhadap total nilai investasi Kota Pasuruan, menjadikannya kontributor terbesar di antara sektor lainnya.
Menurut Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Pasuruan, Indra Gunawan, nilai investasi tahun 2022 mencapai Rp134,55 miliar, atau 52% dari target tahunan sebesar Rp256,7 miliar.
Selain properti, sektor perdagangan (18%), konstruksi (16%), serta pariwisata, kesehatan, dan pendidikan (16%) turut memperkuat struktur ekonomi daerah.
Angka-angka tersebut mencerminkan tingginya minat investor terhadap Pasuruan sebagai kawasan dengan risiko rendah dan potensi imbal hasil tinggi.
Arah Strategis: Dari Kawasan Penyangga Menjadi Pusat Pertumbuhan
Dengan fondasi industri yang kuat, dukungan infrastruktur modern, dan peningkatan kualitas permukiman, Pasuruan kini bukan lagi sekadar daerah penyangga metropolitan Surabaya, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Timur.
Perpaduan antara sektor industri dan residensial menjadikan kawasan ini menarik bagi investor, pengembang, dan masyarakat urban yang mencari keseimbangan antara harga, aksesibilitas, dan peluang ekonomi.
Dalam jangka menengah, Pasuruan berpotensi menjadi hub properti industri dan hunian produktif terintegrasi di jalur ekonomi timur Jawa. Pertumbuhan ini akan semakin cepat jika disertai kebijakan tata ruang yang adaptif, penguatan regulasi investasi, dan sinergi antara sektor publik dan swasta.
Kesimpulan: Momentum Emas bagi Properti Pasuruan
Kota Pasuruan sedang berada di fase akselerasi.
Daya tarik industri, konektivitas tol, peningkatan kualitas hunian, serta tren investasi yang positif menjadi kombinasi ideal bagi pertumbuhan sektor properti jangka panjang.
Dengan arah pembangunan yang jelas dan basis ekonomi yang kuat, Pasuruan adalah cerminan masa depan kawasan industri modern Jawa Timur — produktif, inklusif, dan berdaya saing tinggi.





