Sektor properti dan konstruksi terus menunjukkan dirinya sebagai salah satu tonggak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak hanya melalui kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor ini juga memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan dalam menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang, serta merangsang pengembangan industri terkait seperti bahan bangunan dan jasa pendukung.
Dalam konteks kebutuhan rumah rakyat yang masih tinggi dan target strategis pembangunan hunian oleh pemerintah, penting untuk memahami bagaimana perumahan dapat secara langsung menyerap tenaga kerja local.
Termasuk bagaimana menciptakan peluang usaha di sektor turunan, serta bagaimana developer dan asosiasi seperti Deprindo dapat berstrategi agar multiplier effect ini betul-betul maksimal dan inklusif.
Peran Strategis Sektor Properti sebagai Salah Satu Motor Lapangan Kerja
Properti dan konstruksi menyerap tenaga kerja dalam skala besar: menurut laporan Kemenkeu, sektor properti dan konstruksi mengangkat sekitar 13,8 juta orang bekerja per tahun atau sekitar 10,2 persen dari total angkatan kerja nasional pada tahun 2022.
Bidang-bidang turunan juga ikut berkembang pesat karena properti, antara lain industri bahan bangunan (semen, bata, pasir, genteng), manufaktur peralatan rumah tangga, industri kayu dan aluminium untuk jendela/kusen, jasa desain, arsitektur dan konsultasi, jasa konstruksi, logistik dan transportasi, serta sektor keuangan seperti KPR dan pembiayaan.
Sebagai contoh, menurut laporan Kompas pada 2024, investasi properti di subsektor perumahan dan kawasan industri perkantoran mencapai Rp 122,9 triliun, yang memicu kegiatan banyak subsektor industri terkait.
Dampak langsung dari pembangunan perumahan terhadap tenaga kerja lokal dapat dilihat dari penyediaan lapangan kerja dalam pekerjaan fisik konstruksi, tukang, mandor, tenaga listrik/plumbing, dan tenaga pendukung seperti keamanan, kebersihan, pengelolaan proyek.
Selain itu, proyek perumahan mendorong tenaga kerja di sektor informal dan UMKM lokal yang menyediakan makanan, bahan bangunan lokal, transportasi, dan layanan lainnya di sekitar proyek.
Data dari BPS pada Februari 2025 menunjukkan sektor konstruksi sendiri menyerap lebih dari 8,7 juta orang tenaga kerja, yaitu sekitar 5,97 persen dari total angkatan kerja.
Strategi Memaksimalkan Dampak Lapangan Kerja
Agar sektor properti dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak dan efektif, beberapa strategi penting perlu dijalankan. Pertama, developer harus merancang proyek dengan lokasi yang strategis dan memanfaatkan tenaga kerja lokal sebanyak mungkin.
Ini tidak hanya mengurangi biaya tenaga kerja dan logistik, tetapi juga meningkatkan multiplier effect di masyarakat sekitar.
Kedua, penggunaan teknologi konstruksi yang padat karya tetapi efisien harus diimbangi dengan pelatihan tenaga kerja lokal agar mereka mampu mengikuti standar kualitas modern.
Pelatihan seperti teknik bangunan baru, manajemen proyek, keselamatan kerja akan meningkatkan produktivitas dan kualitas proyek.
Ketiga, kolaborasi erat antara developer dan pemerintah daerah sangat penting: pemerintah daerah dapat menyediakan insentif lokal, mempermudah perizinan, menyediakan lahan atau akses infrastruktur, sedangkan developer dapat berkomitmen untuk memakai pekerja lokal dan memberdayakan supplier lokal.
Asosiasi Deprindo dapat memastikan bahwa multiplier effect properti berjalan maksimal dengan memfasilitasi koordinasi antara pemerintah pusat/daerah, pengembang, dan komunitas lokal.
Deprindo dapat melakukan pemantauan atas proyek-perumahan agar standar tenaga kerja dan penggunaan tenaga lokal dipenuhi, serta dapat mengadvokasi regulasi atau kebijakan yang mengutamakan penggunaan produk lokal dan pekerja lokal.
Penutup
Perumahan bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal. Ia adalah instrumen pembangunan ekonomi yang kaya lapangan kerja dan peluang usaha, terutama bagi masyarakat lokal.
Dengan strategi yang bijak, proyek hunian dapat menciptakan efek berganda yang memberi manfaat nyata: dari tukang di proyek, supplier bahan lokal, UMKM sekitar, hingga pembiayaan dan layanan pendukung.
Ke depan, sebagai calon Ketua Umum DPP Developer Properti Indonesia 2025-2028, komitmen terhadap penciptaan lapangan kerja harus menjadi bagian tak terpisahkan dari visi pembangunan properti.
Deprindo harus mendorong proyek-proyek hunian yang tidak hanya layak huni dan terjangkau, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal, memberdayakan ekonomi lokal, dan memastikan bahwa setiap proyek perumahan benar-benar memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.






1 thought on “Catatan Jarot Warjito: Peran Strategis Sektor Properti Buka Jutaan Lapangan Kerja dan Hidupkan Ekonomi Lokal”
Pandangan Pak Jarot sejalan dengan semangat kita di DEPRINDO.
Sektor properti memang jadi penggerak ekonomi, buka banyak lapangan kerja, dan hidupkan ekonomi lokal.
Mari terus jaga sinergi antara pengembang, pemerintah, dan masyarakat biar pembangunan makin merata dan berkelanjutan