Saya sering merenung tentang arti pendidikan dalam hidup. Bagi sebagian orang, pendidikan mungkin sekadar tahap formalitas—sebuah kewajiban untuk mendapatkan gelar atau pekerjaan yang lebih baik.
Namun bagi saya, pendidikan adalah fondasi perjalanan untuk terus memperbarui diri, mengasah cara berpikir, dan menyiapkan langkah untuk memberi manfaat yang lebih luas bagi banyak orang.
Saat ini, di tengah kesibukan saya memimpin berbagai lini bisnis dan organisasi, saya menempuh studi Magister Manajemen Bisnis (MBA) di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).
Langkah ini bukan semata untuk menambah gelar di belakang nama, tetapi untuk memperdalam pemahaman tentang kepemimpinan, strategi bisnis, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi keberlanjutan usaha.
Saya memulai perjalanan panjang ini bukan dari ruang rapat, melainkan dari bengkel alat berat.
Lahir di Boyolali pada 9 Februari 1977, saya menempuh pendidikan dasar di SDN 2 Kragilan, lalu melanjutkan ke Sekolah Teknik Negeri 1 Boyolali dan STM Negeri 1 Surakarta, lulus pada 1994. Dari sanalah semangat saya terhadap dunia teknik tumbuh.
Tahun itu pula saya bekerja sebagai mekanik alat berat di PT Sebatin Kaltim, sebelum akhirnya bergabung dengan PT United Tractors Tbk—perusahaan besar di bawah Astra Group—selama 15 tahun hingga 2010.
Pengalaman panjang di lapangan memberi saya banyak pelajaran tentang kedisiplinan, ketekunan, dan pentingnya tanggung jawab. Namun pada titik tertentu saya menyadari, pengalaman teknis harus berjalan beriringan dengan wawasan manajerial dan keilmuan yang kuat.
Maka pada 2010, saya memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri, mendirikan CV Tractorindo Mitra Utama, yang kemudian berkembang menjadi Tractorindo Group.
Bisnis ini bergerak di bidang maintenance dan service alat berat, suplai sparepart, serta jual beli unit bekas. Dalam waktu singkat, perusahaan kami dipercaya menangani berbagai tender pemerintah melalui LPSE e-catalog.
Tahun 2011 menjadi momen penting ketika kami berekspansi ke Nusa Tenggara Timur dan mendirikan joint operation dengan Montana Tractor di Timor Leste. Itulah awal dari langkah saya menembus pasar internasional.
Selanjutnya, saya mendirikan CV Bumi Berkah Gemilang dengan brand JuraganPasir.com pada 2014, yang kini mengelola tambang pasir seluas 44 hektare di Pasuruan. Tahun 2019 saya meluncurkan platform digital untuk memperluas layanan, dan pada 2020 mulai mengembangkan bisnis properti melalui PT Bangun Persada Syariah di Kabupaten Malang.
Di sela kesibukan bisnis, saya tetap berpegang pada keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya yang tidak boleh padam. Maka saya menyelesaikan studi S1 Manajemen di Universitas Terbuka pada 2022, sebelum melanjutkan ke program MBA di SBM ITB.
Bagi saya, belajar di SBM ITB bukan sekadar kembali ke ruang kuliah, melainkan proses memperkuat akar dan sayap: memperdalam ilmu sambil memperluas pandangan.
SBM ITB mengajarkan saya tentang kepemimpinan yang berlandaskan integritas, keberagaman, dan kemanusiaan. Nilai-nilai ini sejalan dengan perjalanan hidup saya yang dimulai dari bawah, dan kini membawa tanggung jawab yang lebih besar—baik sebagai pengusaha maupun pemimpin organisasi.
Kalau dulu saya belajar tentang mesin, sekarang saya belajar tentang manusia: bagaimana membangun tim, menciptakan nilai, dan menumbuhkan keberlanjutan usaha yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Pendidikan membantu saya memahami bahwa bisnis yang baik bukan hanya tentang keuntungan, tetapi tentang kebermanfaatan.
Selain dunia usaha, saya juga aktif dalam organisasi. Saya dipercaya menjadi Ketua DPW Deprindo Jawa Timur dua periode berturut-turut (2019–2022 dan 2022–2025), Sekretaris Jenderal Nusantara Gilang Gemilang, Wakil Ketua HIPPI Jawa Timur, Ketua Bidang Hubungan dan Kerja Sama Luar Daerah ISMI Malang Raya, serta Wakil Ketua Alumni Lemhannas 2023 Taplai Kebangsaan.
Bagi saya, kepercayaan itu bukan sekadar jabatan—melainkan amanah. Dan agar mampu menjalankannya dengan bijak, saya harus terus belajar.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, saya meneguhkan langkah bahwa pendidikan adalah investasi terbaik sepanjang hidup. Saya percaya, setiap fase perjalanan memiliki “sekolah”-nya sendiri. Dari bengkel saya belajar tentang kerja keras.
Dari bisnis saya belajar tentang strategi. Dan dari pendidikan formal, saya belajar tentang makna ilmu dan nilai moral di balik setiap keputusan.
Saya percaya, kesuksesan sejati tidak diukur dari berapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Maka, pendidikan bagi saya adalah jalan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri—agar setiap langkah, setiap karya, dan setiap keputusan bisa memberi arti bagi sesama.





