dampak pertumbuhan bisnis properti

Catatan Jarot Warjito: Dampak Pertumbuhan Bisnis Properti bagi Bangsa dan Negara

Facebook
Twitter
WhatsApp
Threads

Sektor properti bukan sekadar urusan membangun gedung atau kompleks perumahan. Bagi saya, dampak pertumbuhan bisnis properti adalah salah satu pilar penting yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat kesejahteraan, sekaligus memperkaya kualitas hidup masyarakat.

Di catatan ini, saya ingin berbagi pandangan mengenai dua dimensi besar: bagaimana kontribusi properti terhadap ekonomi nasional, serta dampak sosial yang ditimbulkannya — termasuk bagaimana menjadikan pertumbuhan itu benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dampak Pertumbuhan Bisnis Properti bagi Ekonomi Nasional

Laporan yang dirilis oleh Bisnis Ekonomi dan Kontan menunjukkan bahwa sektor properti, real estat, dan konstruksi secara kolektif menyumbang antara 14,63% hingga 16,30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang periode 2018–2022.

Nilai output tahunan yang dihasilkan mencapai kisaran Rp2.349 triliun hingga Rp2.865 triliun, angka yang menegaskan peran besar sektor ini dalam menopang perekonomian nasional.

Kontribusi tersebut tidak berhenti pada sisi PDB. Menurut catatan Teropong Bisnis, sektor properti juga menciptakan efek berganda atau multiplier effect yang luas, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 13–14 juta orang setiap tahun.

Dari pekerja konstruksi lapangan hingga tenaga profesional di tingkat manajemen, seluruhnya turut merasakan manfaat dari berkembangnya sektor ini.

Di sisi fiskal, data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa sektor properti memberi sumbangan sekitar Rp185 triliun per tahun pada penerimaan pajak pusat, atau setara dengan 9,3% dari total penerimaan pajak nasional.

Sementara itu, kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai sekitar Rp92 triliun per tahun, yang kurang lebih menyumbang 31,9% dari total PAD provinsi dan kabupaten/kota.

Dengan kata lain, properti bukan hanya penggerak pembangunan fisik, melainkan juga sumber pendapatan vital yang memungkinkan pemerintah pusat maupun daerah membiayai layanan publik, infrastruktur, dan program-program pembangunan lainnya.

Melihat data tersebut, saya berkeyakinan sektor properti sangat strategis bagi bangsa ini. Alasannya sederhana: properti memiliki keterhubungan yang luas dengan ratusan sub-sektor industri, mulai dari material bangunan, jasa konstruksi, transportasi, hingga sektor keuangan.

Pertumbuhan di sektor properti otomatis menggerakkan banyak sektor lainnya. Selain itu, properti dikenal sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, sebuah fungsi yang amat penting di tengah tantangan pengangguran.

Dalam kondisi krisis sekalipun, seperti saat pandemi, sektor ini terbukti memiliki daya tahan cukup baik jika didukung dengan kebijakan dan insentif yang tepat. Di sisi lain, pembangunan properti juga menciptakan aset tetap dan investasi jangka panjang, yang pada akhirnya memengaruhi nilai kekayaan masyarakat, perkembangan kota, serta arah pembangunan nasional.

Dampak Sosial dari Pertumbuhan Properti

Di luar kontribusinya terhadap ekonomi, sektor properti juga membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat. Pertumbuhan pembangunan memungkinkan hadirnya perumahan yang layak huni dengan standar yang lebih baik.

Hunian yang aman, nyaman, sehat, dan dilengkapi dengan sanitasi, listrik, air bersih, akses transportasi, serta fasilitas umum, memberi peningkatan signifikan dalam kualitas hidup masyarakat.

Sektor ini juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi backlog perumahan yang masih besar di Indonesia. Melalui pembangunan agresif yang dibarengi dengan dukungan pemerintah, seperti program rumah subsidi dan rumah rakyat, ketertinggalan kebutuhan hunian masyarakat bisa perlahan diatasi.

Lebih dari itu, pertumbuhan properti mendorong perbaikan kualitas lingkungan kota. Dengan perencanaan tata ruang yang baik, pembangunan akan menghadirkan ruang terbuka hijau, infrastruktur memadai, serta fasilitas publik yang meningkatkan kesehatan dan kenyamanan hidup warga.

Pada tingkat rumah tangga, kepemilikan rumah memberikan stabilitas finansial dan sosial. Sebuah rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga aset berharga yang bisa menopang mobilitas ekonomi keluarga.

Tidak kalah penting, pembangunan properti melibatkan masyarakat lokal. Warga sekitar sering ikut serta sebagai tenaga kerja, penyedia material, maupun pengguna fasilitas yang dibangun. Dengan begitu, manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati oleh pembeli rumah atau pemilik modal, tetapi juga masyarakat luas di sekitarnya.

Agar Pertumbuhan Inklusif

Meski dampaknya besar, saya percaya bahwa pertumbuhan sektor properti harus tetap inklusif. Pertumbuhan tidak boleh hanya menguntungkan sebagian kecil kalangan atau wilayah tertentu. Pemerintah bersama asosiasi pengembang perlu memastikan adanya kebijakan yang mendukung terciptanya rumah terjangkau.

Program perumahan rakyat, insentif bagi rumah bersubsidi, bantuan perpajakan, hingga kemudahan perizinan untuk pembangunan rumah skala kecil dan menengah menjadi langkah yang sangat penting.

Selain itu, pembangunan harus merata. Fokus pembangunan sebaiknya tidak hanya di kota-kota besar atau metropolitan, tetapi juga menjangkau daerah pinggiran, kawasan penyangga, dan wilayah tertinggal.

Dengan infrastruktur dasar yang memadai serta akses perumahan yang lebih luas, manfaat pertumbuhan bisa benar-benar dirasakan secara nasional.

Pelibatan masyarakat juga harus menjadi bagian dari proses pembangunan. Sejak tahap perencanaan, masyarakat perlu diajak berdialog, mulai dari aspirasi soal hunian, dampak lingkungan, hingga akses fasilitas publik. Dengan cara ini, pembangunan akan lebih transparan sekaligus memberi ruang partisipasi bagi warga.

Pertumbuhan yang berkelanjutan juga perlu menjadi prioritas. Tidak cukup hanya menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga memastikan efisiensi energi, penggunaan bahan ramah lingkungan, pengelolaan air limbah yang baik, serta akses terhadap transportasi publik dan ruang terbuka. Dengan pendekatan ini, manfaat sektor properti bisa dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi mendatang.

Terakhir, regulasi dan insentif yang tepat harus hadir sebagai penopang. Pemerintah pusat dan daerah perlu menyiapkan aturan yang jelas terkait perizinan, zonasi, dan tata ruang, sekaligus memberikan insentif fiskal dan moneter bagi pembangunan rumah terjangkau maupun proyek skala kecil-menengah.

Langkah seperti insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah, atau kemudahan dalam pembebasan lahan, bisa mempercepat terwujudnya hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Penutup

Bagi saya, pertumbuhan bisnis properti adalah salah satu motor utama pembangunan bangsa. Sektor ini tidak hanya tentang gedung dan hunian, melainkan tentang bagaimana kita membangun masa depan: kesempatan bagi rakyat untuk memiliki rumah layak, pemerataan pembangunan ekonomi, penguatan fiskal negara, serta kualitas hidup yang lebih baik.

Sebagai calon Ketua Umum DEPRINDO 2025–2028, saya menegaskan komitmen untuk menjadikan sektor properti lebih inklusif, lebih adil, dan lebih bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Karena pada akhirnya, kemajuan bangsa bukan sekadar angka dalam PDB, melainkan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh warga—baik yang tinggal di pusat kota maupun di pelosok desa.

—
Oleh:

Jarot Warjito

Pengusaha dan Calon Ketua Umum Developer Properti Indonesia 2025–2028

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *