Hari Ibu sering kali terjebak dalam sekat-sekat domestik, di mana kasih sayang dibatasi hanya pada ruang keluarga. Padahal, jika kita menilik lebih dalam, eksistensi manusia ditopang oleh tiga sosok “Ibu” yang saling berkelindan.
Ibu kandung yang melahirkan, Ibu Pertiwi yang menyatukan, dan Ibu Bumi yang menghidupkan. Menghormati ketiganya bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kunci kelangsungan peradaban.
Penghormatan pertama dimulai dari rumah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perempuan di Indonesia mencapai lebih dari 136 juta jiwa, di mana sebagian besar di antaranya adalah para ibu yang menjadi tulang punggung pendidikan karakter bangsa.
Di tangan merekalah generasi masa depan dibentuk. Ibu bukan sekadar peran biologis; ia adalah lembaga pendidikan pertama yang mengajarkan empati sebelum logika. Tanpa kasih sayang ibu, sebuah bangsa akan tumbuh menjadi entitas yang dingin dan tanpa arah.
Menjaga Ibu, Merawat Pertiwi
Namun, cinta kepada ibu kandung seharusnya meluas menjadi cinta kepada Ibu Pertiwi. Bangsa ini bukan sekadar garis di peta, melainkan “rahim besar” yang menaungi keberagaman yang luar biasa.
Kekayaan Ibu Pertiwi tercermin dari kekayaan identitasnya; Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 1.340 suku bangsa dan sekitar 718 bahasa daerah. Menghormati Ibu Pertiwi berarti menjaga harmoni di tengah kemajemukan ini.
Ketika kita merusak persatuan atau membiarkan kebencian tumbuh, kita sedang melukai rahim yang telah memberi kita identitas dan rasa aman. Mengabdi pada Ibu Pertiwi adalah bentuk bakti kita atas tanah yang kita injak dan air yang kita minum.
Menjaga Ibu, Memelihara Bumi
Lebih jauh lagi, kita semua bernaung di bawah Ibu Bumi. Jika Ibu Pertiwi memberi kita identitas, Ibu Bumi memberi kita nyawa. Indonesia, sebagai negara megabiodiversity, memegang peran krusial dalam menjaga kesehatan planet ini.
Dengan kekayaan hayati yang mencakup sekitar 10% spesies tanaman dunia, 12% spesies mamalia, dan 17% spesies burung, Indonesia adalah paru-paru sekaligus jantung dunia.
Menghormati Ibu Bumi berarti berhenti memandang alam sebagai komoditas semata. Krisis iklim dan kerusakan ekosistem adalah tanda bahwa “sang ibu” sedang merintih.
Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan adalah bentuk kedurhakaan kepada sumber kehidupan yang paling dasar.
Ketiga dimensi keibuan ini—individu, bangsa, dan alam—adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa mengaku mencintai ibu kita jika kita membiarkan alam tempatnya tinggal hancur. Kita tidak bisa mengaku nasionalis jika kita mengabaikan kelestarian lingkungan bangsa kita.
Momentum Hari Ibu harus menjadi titik balik refleksi kolektif. Menghormati ibu berarti menjaga kebersihan sungai, merawat toleransi antar suku, dan memberikan perlindungan serta martabat bagi perempuan di seluruh pelosok negeri.
Mari kita jadikan cinta ini sebagai aksi nyata: mulai dari bakti di kaki ibu kandung, hingga menjaga kelestarian setiap jengkal tanah Ibu Pertiwi demi kebahagiaan Ibu Bumi. Sebab, pada akhirnya, merawat “Ibu” dalam segala bentuknya adalah cara terbaik untuk merawat kemanusiaan itu sendiri.





