Tragedi banjir bandang Sumatera yang melanda beberapa wilayah pada akhir November 2025 ini meninggalkan luka mendalam bagi kita semua.
Saya atas nama pribadi dan DPP Deprindo menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada seluruh keluarga yang kehilangan orang tercinta, serta doa bagi para penyintas yang kini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka.
Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, tetapi peringatan keras bahwa pembangunan—apa pun bentuknya—harus selalu selaras dengan alam.
Bencana besar ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang turun terus-menerus. Menurut BMKG, volume hujan yang biasanya terjadi selama sebulan penuh jatuh hanya dalam satu hari di beberapa wilayah. Kondisi ini diperparah oleh anomali cuaca di Selat Malaka yang memicu terbentuknya Siklon Tropis Senyar.
Meski berkategori rendah, siklon ini memperkuat suplai uap air dan meningkatkan intensitas hujan secara signifikan. Kombinasi ekstrem inilah yang akhirnya memicu banjir bandang dahsyat yang meluluhlantakkan tiga provinsi sekaligus.
Namun, cuaca ekstrem bukan satu-satunya penyebab. Tragedi ini menunjukkan bahwa kemampuan alam menyerap air telah melemah. Hilangnya tutupan hutan, degradasi daerah aliran sungai, serta praktik pertambangan dan pembalakan liar yang tidak terkendali memperburuk segalanya.
Ketika akar-akar pohon hilang, tanah tak lagi mampu menahan air. Akibatnya, air hujan sebagian besar berubah menjadi run-off yang mengalir cepat ke sungai dan menciptakan gelombang banjir bandang yang mematikan.
Dampak Bencana Banjir Bandang Sumatera
Berdasarkan data Pusdatin BNPB (1/12/2025 pukul 17.00 WIB) yang dikutip Kompas, bencana ini menimbulkan dampak yang sangat luas:
Korban Jiwa dan Luka
- Aceh: 156 meninggal, 181 hilang, 1.800 luka
- Sumatera Barat: 165 meninggal, 114 hilang, 112 luka
- Sumatera Utara: 283 meninggal, 169 hilang, 613 luka
Kerusakan Rumah dan Infrastruktur
- 3.500 rumah rusak berat
- 4.100 rumah rusak sedang
- 20.500 rumah rusak ringan
- 271 jembatan rusak
- 282 fasilitas pendidikan rusak
Angka-angka ini bukan sekadar statistik — ini adalah potret luka, kehilangan, dan penderitaan puluhan ribu keluarga.
Mengapa Kita Tidak Boleh Mengabaikan Alam
Bencana ini mempertegas satu hal: kerusakan lingkungan adalah bom waktu yang akan terus berdetak jika tidak kita kendalikan.
Daerah aliran sungai (DAS) di Sumatera mengalami tekanan luar biasa akibat deforestasi, illegal logging, hingga pertambangan yang tidak terkelola. Ketika hulu sungai rusak, yang menderita bukan hanya kawasan sekitar, tetapi seluruh aliran sungai hingga ke hilir.
Mongabay.co.id mencatat bahwa antara 2011–2021 Sumatera kehilangan 139.590 hektar tutupan hutan. Data Global Forest Watch bahkan menampilkan gambaran lebih detail tentang kondisi hutan Sumatera Utara:
Data Kerusakan Hutan (Globalforestwatch.org)
- Pada 2020, Sumatera Utara masih memiliki 2,1 juta hektar hutan alam
- Tahun 2024, kehilangan 8,1 ribu hektar hutan alam (setara 5,9 juta ton emisi COâ‚‚)
- Periode 2002–2024: kehilangan 390 ribu hektar hutan primer basah
- Total penurunan hutan primer basah mencapai 19%
Hilangnya tutupan vegetasi ini membuat tanah kehilangan daya serapnya. Ketika hujan ekstrem datang, banjir bandang menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Pelajaran untuk Semua
Sebagai seseorang yang bergerak di sektor properti, saya melihat bencana ini bukan hanya sebagai kejadian alam, tetapi sebagai alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan.
Pembangunan dan aktivitas manusia tidak boleh semata-mata mengejar keuntungan. Kita harus memastikan bahwa setiap pembangunan menghormati kapasitas alam.
Mulai dari penataan ruang yang disiplin, perlindungan kawasan hijau, hingga memastikan bahwa pembangunan tidak menyentuh wilayah rawan bencana.
Ruang terbuka hijau harus diperluas, daerah tangkapan air harus dipulihkan, dan konsep nature-based solutions perlu menjadi perhatian bagi semua pihak.
Mari Bersama Merawat Alam
Bencana di Sumatera memberi kita pelajaran pahit namun sangat penting: manusia tidak bisa menang dari alam, tapi bisa hidup harmonis dengannya jika kita menjaga keseimbangannya.
Solusi bagi kita bersama adalah mengembalikan hijau yang hilang, merehabilitasi kawasan terdampak, dan memastikan bahwa pembangunan tidak merusak ekosistem penyangga.
Sebagai bangsa, kita punya tanggung jawab untuk memastikan tragedi seperti ini tidak berulang. Mari jadikan bencana ini sebagai titik balik—bahwa pembangunan harus maju, tetapi alam harus tetap lestari.
Semoga kita belajar, memperbaiki diri, dan bergerak bersama demi Indonesia yang lebih aman dan berkelanjutan.





