Februari 2026 menghadirkan pemandangan yang sarat makna di sudut-sudut kota kita. Merahnya lampion Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili menghiasi ruang publik.
Menciptakan kontras yang indah ditengah persiapan umat Muslim yang juga sedang menghitung hari menuju datangnya bulan suci Ramadan 1447 H.
Sebagai seorang Muslim, momen ini bukan sekadar pergantian kalender atau sekumpulan hari libur nasional. Ini adalah ujian sekaligus perayaan atas kedewasaan kita dalam berbangsa.
Menenun Harmoni Keberagaman: Ruang Perjumpaan, Bukan Sekadar Batasan
Hidup di Indonesia adalah hidup dalam sebuah “ruang tamu” besar yang ditinggali oleh berbagai identitas. Menghargai perayaan Imlek bagi saya adalah bentuk pengakuan bahwa tetangga saya, rekan kerja saya, dan saudara sebangsa saya yang merayakannya adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh Indonesia.
Keberagaman bukanlah tentang memaksakan diri untuk menjadi sama, melainkan tentang bagaimana kita bisa duduk berdampingan dengan tetap memegang teguh prinsip masing-masing.
Toleransi yang sejati tidak menuntut seseorang untuk meluruhkan keyakinannya, tetapi menuntut kita untuk memberikan ruang aman bagi orang lain agar dapat menjalankan keyakinannya dengan damai.
Energi Keberagaman Tahun Baru Imlek dan Menyambut Ramadan Ramadan 1447 H
Tahun 2026 ini, Imlek membawa simbolisme Kuda Api—sebuah perlambang energi yang meluap dan semangat untuk maju. Secara kebetulan, energi ini terasa sangat selaras dengan semangat umat Muslim yang sedang bersiap menjemput Ramadan.
Momentum ini tentu akan menyalurkan energi positif tersendiri menuju bangsa yang rukun dan bermartabat.
Jika semangat Imlek bicara tentang harapan akan kemakmuran dan kemajuan bangsa, maka Ramadan bicara tentang penyucian jiwa untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Harapan untuk Bangsa yang Besar
Sebuah bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa seragam rakyatnya, melainkan dari seberapa kokoh jembatan persaudaraan yang dibangun di atas perbedaan.
Saat saudara-saudara kita etnis Tionghoa merayakan tradisi leluhur mereka, dan tak lama kemudian kita sebagai umat Muslim memasuki bulan puasa, ada satu benang merah yang menyatukan kita:
Mari kita jadikan akhir Februari 2026 ini sebagai ajang untuk memperkuat kohesi sosial. Kita bisa menunjukkan bahwa meski berbeda cara berdoa, kita memiliki arah yang sama dalam membangun bangsa.
Tanpa harus melampaui batas keyakinan masing-masing, kita tetap bisa saling membantu, menjaga ketertiban, dan saling mendoakan keselamatan bagi ibu pertiwi.





