Disampaikan dalam Kajian Spirit Gemilang Edisi 242, Nusantara Gilang Gemilang – Camp King Sulaiman, 25 November 2025
Kajian Spirit Gemilang edisi ke-242 menghadirkan ruang perenungan mendalam tentang esensi kepemimpinan. Mengusung tema “Kepemimpinan Otentik dan Berdampak”, acara yang diikuti ratusan peserta ini menghadirkan para tokoh lintas disiplin.
Di antaranya Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. (Wakil Rektor IV UMM), Dr. H. Puguh Wiji Pamungkas, MM (Presiden NGG sekaligus Anggota DPRD Jawa Timur), serta Coach Dr. Fahmi (Founder GBC).
Dalam kesempatan ini, disampaikan sebuah perjalanan kepemimpinan yang tidak pernah berdiri di ruang yang steril—melainkan lahir dari dinamika bisnis, organisasi, dan pergulatan nilai.
Belajar Membangun Kepemimpinan di Level Nasional
Saya sedikit bercerita bagaimana awal perjalanan dimulai dari dunia bisnis, khususnya sektor properti. Masuk ke dunia organisasi pada level nasional ternyata membutuhkan perspektif yang sama sekali berbeda. Dedikasi waktu, tenaga, dan pikiran harus diarahkan dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk perjuangan.
Menjelang munas, langkah pertama saya adalah menyiapkan tim-tim hebat. Bagi saya, ruang strategis harus diisi dengan para ahli yang memiliki kemampuan mumpuni.

Di fase penting itu, bimbingan dari Coach Dr. Fahmi menjadi salah satu kompas utama dalam menentukan langkah dan arah terbaik.
Setelah dinamika yang terjadi dalam munas, saya pun mendapat amanah dalam kepemimpinan Deprindo masa bakti 2025–2028. Momentum itu bukan sekadar capaian, melainkan titik awal perjuangan dan dedikasi.
Integritas sebagai Fondasi Utama
Pada level atas, seringkali muncul “embel-embel” yang menyalahi nurani. Di titik inilah integritas diuji. Segala hal yang tidak sesuai nilai dasar langsung ditolak, karena seorang pemimpin hanya dapat menyala ketika teguh pada prinsipnya.
Tanpa kepercayaan, jabatan hanyalah gelar kosong.
Kepercayaan tumbuh dari konsistensi: menyampaikan apa adanya, menjalankan apa yang dijanjikan, dan menjaga standar pelayanan terbaik.
Pengalaman saya di perusahaan dimana pernah memberi garansi layanan 24 jam menjadi contoh nyata. Walau biayanya besar, keputusan itu membangun kepercayaan jangka panjang dan hingga kini masih berlaku.
Inilah perjalanan kepemimpinan yang terbentuk dari pengalaman lapangan, keberanian mengambil risiko, dan komitmen pada nilai dasar.
Perjuangan untuk Masyarakat yang Belum Memiliki Rumah
Fokus perjuangan saat ini adalah masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang berpenghasilan rendah dan belum memiliki rumah.
Kolaborasi pemerintah dengan asosiasi pengembang adalah kunci untuk membuka akses lebih luas. Kepemimpinan yang berdampak harus berbicara tentang solusi nyata, bukan sekadar retorika.
Kerja keras menjadi pondasi. Tanpa itu, bangunan kepemimpinan tidak akan pernah kokoh.
Tentang Pemimpin yang Hanya Membangun Citra di Media Sosial
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan tentang fenomena pemimpin yang tampil baik di media sosial namun kurang kompeten.
Jawabannya sederhana: lihat rekam jejaknya.
Setiap pemimpin meninggalkan jejak, dari awal perjalanan hingga mencapai posisinya hari ini. Cara seseorang bernarasi, nilai yang ia pegang, dan tindakan nyata yang ia lakukan akan menunjukkan kualitas kepemimpinannya.

Referensi seperti pemikiran Nassim Nicholas Taleb dalam Black Swan serta konsep “12 Arah Tumbuh” dari Dr. Fahmi menegaskan pentingnya lompatan-lompatan strategis.
Dalam dunia properti misalnya, bergabung dengan asosiasi yang relevan menjadi leverage besar untuk mempercepat pertumbuhan, termasuk menguatkan jejaring dan kapasitas diri.
Menjadi Pemimpin Berdampak dengan Sumber Daya
Di penghujung sesi, Coach Dr. Fahmi menyampaikan pesan yang terasa menancap kuat bagi banyak peserta. Ia mengingatkan bahwa setiap anak muda yang hadir hari itu perlu memikirkan dirinya di tahun 2030 — akan menjadi apa, akan berdiri di mana, dan perubahan apa yang mampu dihadirkan.

Ia menyinggung nama “King Sulaiman” yang disematkan pada tempat acara, sebagai simbol bahwa setiap orang dipanggil untuk tumbuh menjadi pemimpin sejati. Pemimpin yang bukan hanya hadir, tetapi memiliki sumber daya, keluasan berpikir, dan keberanian untuk membawa perubahan nyata.
Menurutnya, kepemimpinan yang bermartabat lahir dari mereka yang mau terus belajar, mau berjuang di setiap jengkal kehidupan, dan mau menjaga harkat manusia di mana pun berada.
Bekal Keilmuan dan Benchmarking Tokoh Teladan
Setiap tujuan besar memerlukan bekal ilmu. Benchmarking terhadap tokoh yang sesuai dengan tujuan hidup adalah langkah penting.
Belajar dari perjalanan mereka, meniru yang baik, memodifikasi cara, dan menerapkannya dengan keaslian diri akan menjadi bahan bakar kepemimpinan yang tahan lama.
Catatan ini bukan sekadar refleksi, tetapi pengingat bahwa kepemimpinan otentik selalu lahir dari integritas, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar. Kepemimpinan yang berdampak bukan tentang posisi yang diraih, tetapi tentang nilai yang ditinggalkan.
Oleh:
Jarot Warjito
Ketua Umum DPP Deprindo 2025-2028





