Pertumbuhan Properti dan Infrastruktur di Tanah Borneo

Catatan Jarot Warjito: Pusaran Pertumbuhan Properti dan Infrastruktur di Tanah Borneo dan Peluang Pasca IKN

Facebook
Twitter
WhatsApp
Threads

Transformasi besar sedang terjadi di Kalimantan. Sejak penetapan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, lanskap ekonomi dan investasi di wilayah ini mengalami perubahan mendasar.

Dampaknya paling terasa pada sektor properti, yang kini menjelma menjadi salah satu sektor paling dinamis di luar Pulau Jawa. Kota-kota seperti Balikpapan dan Samarinda menjadi episentrum pertumbuhan baru, dengan geliat permintaan dan kenaikan harga yang signifikan sepanjang 2024.

Mengutip dari berbagai sumber seperti Kompas.com dan Antara News Kaltim, Kalimantan Timur mengalami lonjakan harga properti tertinggi di Indonesia berkat proyek IKN.

Namun di sisi lain, muncul tren baru pada 2025 berupa perlambatan pertumbuhan, menandakan pasar mulai bergerak ke fase konsolidasi dan stabilisasi.

Fenomena ini menjadi menarik untuk dianalisis karena memperlihatkan bagaimana proyek strategis nasional mampu menciptakan efek ekonomi berantai di kawasan sekitarnya.

Kalimantan Timur: Magnet IKN dan Lonjakan Pasar Properti

Kalimantan Timur (Kaltim) kini menjadi episentrum pertumbuhan properti nasional. Samarinda pun mencatatkan kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) sebesar 2,45% pada Triwulan I 2024, tertinggi di Indonesia.

Balikpapan juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan IHPR 1,55% pada Triwulan IV 2024, dan untuk rumah tipe kecil (≤36 m²) bahkan mencapai 2,01% (yoy) menurut KaltimExpose.com dan Kompas.com.

Permintaan properti di kawasan IKN meningkat 57% sepanjang 2024, dengan dominasi pada rumah tapak dan tanah. Antara News Kaltim mencatat bahwa peningkatan permintaan rumah mencapai 63,4% karena ekspektasi terhadap pembangunan kawasan pemerintahan dan bisnis baru.

Menariknya, profil pembeli kini didominasi oleh generasi muda berusia 18–34 tahun, yang melihat IKN sebagai peluang investasi jangka panjang. Hal ini menunjukkan pergeseran pola investasi dari pemain besar ke investor ritel baru yang lebih berani mengambil risiko di sektor properti daerah.

Dari sisi komersial, proyek-proyek besar mulai bermunculan. Pemprov Kaltim dan Kompas.com melaporkan masuknya Delonix Group dan Dejem Group (Arab Saudi) untuk membangun proyek mixed-use, mal, serta perkantoran di kawasan IKN. Ini menandai tahap baru di mana properti bukan hanya sektor residensial, tetapi juga instrumen strategis penggerak ekonomi daerah.

Namun, pada Triwulan II 2025, Poros Kaltim mencatat adanya perlambatan pertumbuhan IHPR di Balikpapan menjadi 0,96% (yoy). Perlambatan ini wajar, mencerminkan transisi dari fase euforia ke fase normalisasi pasar.

Menariknya, rumah tipe besar (>70 m²) justru mencatat kenaikan harga tertinggi, sebesar 2,07% (yoy) — menunjukkan permintaan kelas menengah atas tetap kuat.

Infrastruktur menjadi faktor kunci. DetikProperti melaporkan bahwa konsep pengembangan “Three Cities” — yang menghubungkan IKN, Balikpapan, dan Samarinda melalui jaringan kereta api dan jalan tol — akan semakin mempercepat integrasi ekonomi dan membuka peluang baru bagi investasi properti kawasan penyangga.

Kalimantan Tengah: Stabilitas dan Potensi Investasi Jangka Panjang

Berbeda dari Kaltim, Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih stabil namun menjanjikan.

Menurut data DPMPTSP Kalteng, realisasi investasi di provinsi ini pada tahun 2024 mencapai Rp 21 triliun, menandakan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.

Walau data spesifik sektor properti belum banyak terpublikasi, potensi efek berganda terhadap permintaan perumahan dan ruang komersial di Palangka Raya sangat besar.

Data Indonesia mencatat bahwa Palangka Raya termasuk dalam pemantauan Indeks Harga Properti Perumahan (IHPP) Nasional 2024, menunjukkan bahwa wilayah ini sudah mulai dilirik sebagai kota alternatif dengan pertumbuhan yang stabil dan biaya hidup relatif rendah.

Sebagai ibu kota provinsi dengan infrastruktur dasar yang terus berkembang, Palangka Raya memiliki peluang menjadi kawasan hunian bagi kalangan profesional dan investor menengah yang mencari lokasi dengan prospek jangka panjang.

Kalimantan Selatan: Pusat Ekonomi Tradisional dengan Efek Ikutan Positif

Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya Banjarmasin, tetap menjadi pusat ekonomi tradisional di Kalimantan bagian selatan. Meskipun tidak termasuk wilayah penyangga langsung IKN, efek domino pembangunan di Kalimantan secara keseluruhan tetap terasa.

Data Indonesia menempatkan Banjarmasin dalam pemantauan IHPP Nasional 2024, menandakan adanya aktivitas pasar yang stabil.

Aktivitas industri, perdagangan, dan logistik di kawasan ini diharapkan meningkat seiring peningkatan konektivitas antarprovinsi melalui jaringan tol dan pelabuhan baru.

Kalsel dengan karakter ekonominya yang mapan memiliki peran penting sebagai penyeimbang ekonomi regional, menyediakan pasokan material konstruksi dan tenaga kerja yang mendukung pengembangan proyek-proyek besar di Kaltim dan sekitarnya.

Kesimpulan, Kalimantan Siap Jadi Magnet Baru Properti Nasional

Secara keseluruhan, Kalimantan mengalami fase transformasi struktural terbesar dalam sejarah pasar propertinya. Mengutip dari berbagai sumber seperti RAIN Realty, Antara News Kaltim, dan Kompas.com, proyek IKN menjadi game changer yang menggerakkan rantai nilai baru — dari peningkatan permintaan residensial hingga masuknya investor asing di sektor komersial.

Namun, pada 2025, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi. Kenaikan harga yang sempat agresif kini melambat, tetapi dengan struktur permintaan yang lebih sehat dan terarah. Properti yang paling menjanjikan tetap pada segmen rumah tapak di kota penyangga seperti Balikpapan dan Samarinda, serta proyek komersial mixed-use dan hotel di kawasan inti IKN.

Minat generasi muda menjadi faktor baru yang memperkaya ekosistem ini. Mereka melihat properti bukan sekadar aset, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang menuju ekonomi regional yang lebih maju dan inklusif.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pengembang, dan asosiasi seperti Deprindo, Kalimantan berpeluang besar menjadi poros baru industri properti nasional — bukan hanya sebagai penyangga IKN, tetapi sebagai motor pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian timur di era pasca-2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *