Dalam perjalanan panjang saya sebagai pengusaha, dari awal merintis usaha alat berat hingga kini menekuni bidang properti, ada satu hal yang selalu saya pelajari: setiap tantangan dalam bisnis selalu menyimpan peluang baru.
Saat ini, ketika saya maju sebagai calon Ketua Umum Developer Properti Indonesia periode 2025–2028, saya melihat ekosistem properti bukan sekadar bisnis yang bergerak dalam angka dan bangunan, tetapi sebagai sektor strategis yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan bangsa.
Potensi Bisnis Properti di Indonesia
Sektor properti Indonesia berada pada fase yang menarik. Data menunjukkan, investasi properti residensial dan komersial diproyeksikan tumbuh 15–18% secara year-on-year (YoY) pada tahun 2025 (APRINDO, 2025).
Kontribusinya terhadap PDB pun meningkat, dari 10% pada 2024 menjadi 11,5% pada 2025 Angka ini sejalan dengan pertumbuhan PDB nasional yang tercatat 4,04% pada kuartal kedua 2025 (Trading Economics, 2025).
Melirik dua tahun ke belakang, sektor properti memiliki pengaruh signifikan terhadap penerimaan negara melalui berbagai jenis pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI mencatat bahwa sektor properti berkontribusi sekitar Rp185 triliun pada tahun 2023.
Tak hanya dalam skala nasional, property juga menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar, dengan kontribusi sekitar Rp92 triliun per tahun, atau sekitar 31,9% dari total PAD pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Meski penjualan properti tipe kecil sempat melambat di awal tahun 2025, Bank Indonesia mencatat harga properti residensial tetap tumbuh 0,90% YoY pada kuartal II 2025.
Peran sektor properti juga makin vital karena mampu menyerap sekitar 14 juta tenaga kerja setiap tahunnya, yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan masyarakat dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Ini mengindikasikan sektor ini tetap tangguh, meski ekonomi global menghadapi fluktuasi. Program pemerintah, seperti Program Tiga Juta Rumah, juga menjadi katalis positif, menjadikan sektor properti relevan untuk jangka panjang.
Alasan Mengapa Ekosistem Properti Masih Punya Peluang Besar
Lalu mengapa ekosistem ini tetap menarik? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, properti berfungsi sebagai aset lindung nilai atau hedge against inflation. Ketika inflasi naik, harga properti cenderung terdorong naik, sehingga investor menjadikannya pilihan aman.
Kedua, pemerintah secara konsisten memberikan insentif, misalnya perpanjangan PPN Ditanggung Pemerintah hingga akhir 2025. Ketiga, permintaan dasar terhadap hunian selalu ada. Urbanisasi dan pertumbuhan penduduk terus menciptakan pasar yang solid.
Dari perspektif peluang, ada beberapa tren yang menjanjikan. Properti ramah lingkungan atau green property semakin dicari, seiring kesadaran terhadap isu ESG (Environmental, Social, and Governance). Pasar kelas menengah dan generasi muda yang mencari rumah pertama juga menjadi segmen potensial.
Selain itu, kemajuan teknologi mendorong lahirnya smart property melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Sektor logistik pun semakin penting, didorong oleh pertumbuhan e-commerce yang tak terbendung, sehingga gudang dan pusat distribusi menjadi komoditas strategis.
Strategi Memanfaatkan Peluang Properti
Namun, potensi tanpa strategi hanya akan menjadi wacana. Pengembang perlu mengelola peluang ini secara cermat. Langkah pertama adalah melakukan riset pasar mendalam. Tanpa pemahaman terhadap tren, daya beli, dan lokasi strategis, proyek akan sulit menarik minat.
Kedua, kolaborasi dengan perusahaan proptech menjadi sangat relevan. Teknologi memberi akses data yang akurat sekaligus membuka jalan untuk strategi pemasaran digital yang lebih tepat sasaran.
Ketiga, pengembang harus mengutamakan desain dan layanan. Konsumen kini tidak hanya mencari bangunan, tetapi gaya hidup. Properti yang estetis, fungsional, dan dilengkapi layanan manajemen yang baik akan memiliki daya tarik jangka panjang.
Tentu saja, jalan ini tidak bebas hambatan. Tantangan yang perlu diwaspadai antara lain regulasi dan perizinan yang kompleks. Proses legalitas yang panjang bisa menjadi penghambat investasi. Fluktuasi suku bunga KPR juga menjadi faktor penekan, karena memengaruhi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen menuntut adaptasi cepat. Mereka kini lebih memilih properti yang ramah lingkungan dan terintegrasi dengan teknologi. Kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan tren bisa berarti kehilangan pasar.
Bagi pengembang baru, peluang tetap terbuka lebar. Namun, diperlukan langkah yang strategis. Pertama, lengkapi diri dengan pengetahuan.
Bisnis properti bukan sekadar membangun rumah, tetapi melibatkan aspek hukum, keuangan, hingga manajemen proyek. Kedua, joint venture atau kerja sama lahan bisa menjadi solusi bagi mereka yang modalnya terbatas. Ketiga, fokuslah pada segmen niche.
Misalnya, properti bersubsidi, rumah mikro, atau konsep unik yang belum banyak disentuh. Memulai dari ceruk kecil memberi peluang untuk tumbuh secara konsisten sebelum bersaing di pasar yang lebih besar.
Penutup
Sebagai seseorang yang pernah bekerja sebagai mekanik di awal karier, lalu mendirikan CV Tractorindo Mitra Utama hingga kini terjun ke developer properti, saya percaya bahwa pengalaman lintas bidang memberi sudut pandang berbeda dalam melihat peluang.
Sektor properti bukan hanya ruang untuk bisnis, tetapi wahana untuk membangun peradaban.
Maka, ketika saya mencatat peluang-peluang ini, saya melihat bukan hanya angka pertumbuhan, melainkan sebuah ekosistem yang harus dibangun bersama.
Pengembang besar, pengembang baru, pemerintah, hingga konsumen perlu berada dalam satu ekosistem yang sehat. Jika itu terwujud, properti Indonesia bukan hanya tumbuh, melainkan juga mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
—
Oleh:
Jarot Warjito
Pengusaha dan Calon Ketua Umum Developer Properti Indonesia 2025–2028





